Luas Karhutla Kalimantan Tembus 54 Ribu Hektare, Kabut Asap Mulai Lumpuhkan Transportasi dan Aktivitas Warga

Palangkaraya – Di bawah sengatan kemarau pertengahan 2026, langit di sejumlah wilayah Kalimantan berubah kelabu dan bahkan memerah di Palangkaraya. Musim kering membawa ancaman berulang bagi paru-paru dunia. Data Kementerian Kehutanan melalui sistem SiPongi mencatat bahwa akumulasi luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan hingga pertengahan 2026 telah menembus 57.081 hektare melampaui total luas kebakaran sepanjang tahun 2025. Kalimantan Barat menjadi provinsi terdampak paling parah dengan hangusnya lebih dari 28.680 hektare lahan, disusul oleh Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, hingga Kalimantan Utara.

Ribuan titik panas (hotspot) terus bermunculan secara masif. Pemantauan satelit mencatat lebih dari 1.400 titik panas aktif yang mengepulkan asap pekat di berbagai titik konsesi dan hutan. Akibatnya, jarak pandang di kota-kota utama seperti Pontianak, Banjarmasin, dan Palangka Raya merosot tajam hingga hanya beberapa ratus meter. Kondisi ini memaksa ribuan sekolah mengalihkan aktivitas belajar-mengajar menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) demi keselamatan siswa, seiring melonjaknya lebih dari 2.000 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dalam kurun waktu beberapa hari saja.

Dampak krisis ekologi ini menembus batas negara. Sebaran asap pekat lintas batas (cross-border haze) terbawa angin hingga ke wilayah Sarawak, Malaysia, mendorong Indeks Pencemaran Udara di kawasan tersebut masuk ke kategori sangat tidak sehat. Sementara di dalam hutan, keanekaragaman hayati terancam parah. Petugas Manggala Agni menemukan berbagai satwa mati terbakar, sementara ancaman krisis pakan membayangi populasi orangutan yang mulai terdorong keluar dari habitatnya.

Di lapangan, tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan terus berjibaku menembus medan sulit serta keterbatasan sumber air. Upaya penanggulangan diperkuat melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan armada pesawat Casa NC-212 milik TNI AU serta puluhan helikopter water bombing untuk menyiram titik api dari udara. Perjuangan meredam amukan si jago merah masih terus berpacu dengan waktu di tengah cuaca kering yang dinamis.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top